Hasan Syafi'i; Tidak Pernah Bolos Selama Bertahun-Tahun Sekolah di Al-Azhar



Prof. Dr. Hasan al-Syafi'i, guru besar Aqidah dan Filsafat Darul Ulum Universitas Kairo dan Universitas al-Azhar. Penasehat Grand Syekh Al-Azhar. Kepala Majma' al-Lughah al-'Arabiyyah. Pengajar mingguan di Masjid al-Azhar.

Saya memulai perantauan dari kampung halaman di Bani Suef ke Kairo pada usia 13 tahun untuk memulai belajar di Ma'had Al-Azhar. Manakala perang dunia II yang memanen korban sebanyak 60 juta jiwa telah sampai di penghujung kisahnya. Perang yang mengakhiri keadidayaan imprealisme nonya tua Britania, memasrahkannya diambil alih kekuatan baru Amerika. Meskipun peperangannya antar mereka, tetapi pengaruhnya merambat kuat ke Mesir. Sumber daya alamnya dikuras oleh Inggris untuk dipasokkan ke para tentaranya. Sehingga penduduk Mesir sendiri sebagai petani gandum benar-benar menderita tak bisa menikmati panenan gandumnya, hanya memakan roti gandum lusuh.

Kala itu, aku memang masih belia, tetapi sudah membuka mata pada peradaban dan perpolitikan. Sehari-hari aku terbiasa membacakan ayahku Koran Al-Ahram sejak awal tahun 1940, baik berita-berita domestik maupun mancanegara. Aku paling suka rubrik sastra dan syair milik Ali Al-Jarim dan Muhammad Al-Asmar.

Di Kairo aku tinggal bersama abang, Ustadz Abdullatif yang bekerja sebagai pegawai di Kantor Kereta Api Nasional Mesir. Di rumah nomor 4 di Darbul Hajr di Hay Abidin, rumah yang dulunya ditempati oleh Ismail Basya Abu Jabal salah satu pemimpin pasukan penjaga istana raja yang asli Sudan.

Awal tahun ajaran baru dimulai setelah Idul Fitri. Aku menikmati kesibukan baru belajar di ma'had dan intraksi bersama para guru. Dua bulan baru kulalui, tibalah liburan Idul Adha tahun 1944 M. Akupun pulang kampung dengan membawa kegembiraan seorang anak kecil yang ingin melepas kerinduan kepada ayah bundanya. Berharganya waktu di tengah keluarga makin terasa setelah tau rasanya jauh dari mereka.

Liburanpun usai. Saya berkemas, bersiap-siap dan mengenakan pakaian rapi. Ibunda mempersiapkan bekal. Aku dan ayahku yang menghantarkan beranjak keluar dari pintu setelah berpamitan dengan bunda dan adik-adik. Langkah kaki kami perlahan makin menjauh memunggungi rumah, tetapi kepalaku tak hentinya menoleh ke belakang dan tidak kuat untuk menatapkannya kedepan. Mataku terus melihat jendela belakang rumah, di sana masih terlihat ibu dan adik-adik menatap langkah kami.

Ayah yang melihat itu bertanya dengan lembut penuh kasih sayang, "Kenapa, Nak?'

Saya hanya menjawab dengan sepotong kata, "Bunda." Air mataku tak terbendung.

Melihat tingkahku itu, Ayah yang merupakan seorang guru senior dan pendidik berpengalaman seketika mengajakku memutarkan langkah. Ya, kami berbalik arah untuk kembali ke rumah.

Keluarga kaget dengan kembalinya kami. Ayah bahkan menyuruh untuk meletakkan kembali barang bawaan dan mengijinkan perpanjangan libur seminggu lagi. Tentu aku sangat senang, menikmati waktu bersama keluarga lebih lama, karena sebelum mondok ke Ma'had Al-Azhar aku belum pernah jauh-jauh dari mereka. Walaupun selama dua bulan kemarin, aku tidak merasa ada masalah karena tersibukkan dengan pelajaran dan para masyayikh.

Satu minggu sudah aku ambil cuti tambahan. Sebenarnya masih juga berat meninggalkan rumah. Tetapi pagi itu ayah memanggilku. "Nak, kamu liat sendiri apa yang sudah ayah lakukan, memberikanmu waktu perpanjangan di rumah. Tetapi ayah mau kamu tahu. Dulu ayah adalah satu-satunya putra yang nenekmu punya, selain dua adik perempuan yang masih kecil. Kakekmu meninggalkan kami ketika ayah masih kecil. Nenekmu sendirian membesarkan dan mendidik kami. Beliau mengirimkan ayah ke al-Azhar tahun 1910, ketika Mesir dan Al-Azhar masih berduka dengan kewafatan Syekh Muhammad Abduh. Tetapi nenekmu adalah wanita tangguh, ia mengatasi sendiri persoalan rumah tangga dan tidak pernah membiarkan ayah satu haripun bolos dari bersekolah di Al-Azhar."

Suasana sejenak hening. Ayah melanjutkan, "Nak, ayah mohon, jadikan hari ini adalah hari terakhir kamu terlambat masuk sekolah."

Jujur, melalui caranya ini, ayah telah memberikan pelajaran yang amat berharga yang langsung bisa kutangkap. Sejak hari itu juga, selama empat tahun menempuh pendidikan di Ma'had Al-Azhar, aku tidak pernah bolos masuk sekolah kecuali sehari saja. Yaitu di hari pelajaran olahraga saat siswa diwajibkan mengenakan seragam olahraga, sedangkan aku tidak punya.

Bunda, orang tercinta yang kumiliki, beliau meninggal di usia mencapai 100 tahun, saat aku berusia 66 tahun. Beliau adalah orang terpenting dalam hidupku, terlebih setelah kepergian ayah pada awal 1970-an. Hidupku banyak sekali terpengaruh oleh hidupnya dan jiwanya. Dia yang secara sadar atau tidak sadar, selalu memantau setiap pergerakanku dan selalu ada disetiap masalah yang kuhadapi. Kalau diceritakan secara detail, banyak sekali keberadaan krusialnya saat aku menghadapi masa-masa sulit.

Bunda adalah wanita pekerja keras. Kalau dihitung-hitung, kuantitas kebahagiaan materiil yang dirasakan ibu selama di dunia sedikit. Kebahagiaan tertingginya paling banyak dia dapat dari melihat prestasi-prestasi yang diraih anak-anaknya.

Sumber: Kitab Hayātī Fī Hikāyatī

Post a Comment

0 Comments