Sambut Hari Santri Nasional, Aliansi Afiliatif di Mesir Adakan Lomba dan Seminar Kebangsaan


Perayaan hari santri tak hanya marak di Tanah Air. Masisir, sebagai mahasantri Indonesia di Mesir juga tak ingin ketinggalan momentum tahunan tersebut. Hal ini diwujudkan dengan terselenggaranya acara yang bertajuk “Dialog Kebangsaan dan Festival Karya Santri Nusantara” di Sholah Kamil, Hay Sadis (29/10).

Acara ini diadakan oleh berbagai himpunan afiliatif Masisir, yaitu Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir (PCINU), PCI Muhammadiyah Mesir, PCI Nahdlatul Wathan Mesir, Persis, serta PII juga turut ikut serta di dalamnya. Tak hanya itu, himpunan afiliatif juga menggandeng PPMI dan KBRI. Hal tersebut tampak dari beberapa tamu undangan yang turut hadir pada acara tersebut. Di antaranya adalah; Pak Helmy Fauzi, Pak Usman Shihab, dan Pak Cecep. Hadir juga Presiden PPMI, Arief Mughni beserta jajarannya.

Di awali dengan penampilan grup Hadrah al-Nahdlah dari PCINU, acara berlanjut dengan berbagai sambutan. Di antaranya adalah sambutan dari perwakilan panitia yang diwakili oleh saudara Soni, sambutan dari Presiden PPMI, sambutan dari perwakilan afiliatif Masisir yang diwakili oleh Nora Burhanuddin, dan yang terakhir adalah sambutan dari bapak Kedubes, Helmy Fauzi. Dalam sambutannya, setelahsedikit membahas latar belakang hari santri, Pak Helmy Fauzi menyinggung perihal perkembangan zaman saat ini. Beliau mengingatkan bahwa tantangan santri dahulu berbeda dengan santri hari ini. Hal tersebut disebabkan perkembangan dan kemajuan teknologi ataupun industri yang cukup pesat, atau yang sering kita sebut sebagai revolusi industri 4.0. 
Setidaknya ada tiga hal yang menjadi catatan penting dari apa yang beliau sampaikan. Yakni, bahwa senantiasa santri memiliki keteguhan dan konsistensi dalam mendalami keilmuan Islam. Selain itu, santri juga kudu pintar dalam menemukan korelasi antara Islam dan teknologi dan keislaman. Setelah menemukan hal tersebut, maka sudah selayaknya santri memberikan muhafadzhah ataupun penjagaan terhadapnya, serta memiliki laku progresif.

Salah satu daya tarik dari acara tersebut adalah kehadiran Dr. Jamal Faruq, yang dikenal sebagai seorang eks Dekan Fakultas Dakwah Islamiyah al-Azhar. Namun, sangat disayangkan sebab beliau hanya memberikan pidatonya beberapa menit saja. Menurut Rif'ah, salah satu panitia acara, ia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan catatan tersendiri bagi panitia. Lebih jelasnya, panitia baru menghadap Dr. Jamal Faruq pada hari Senin pagi, dan Dr. Jamal Faruq telah memiliki agenda terlebih dahulu pada hari itu. Hal tersebut dikarenakan Dr. Ibrahim Hudhud (yang dicanangkan sebagai keynote sebelumnya)  memiliki agenda mendadak di hari H dan beliau menghubungi panitia pada hari Ahad sekitar pukul 22.00 WLK.

Setelah acara formal usai, agenda berlanjut dengan acara non-formal. Di antaranya adalah pembagian hadiah kepada para pemenang dari deretan lomba yang diadakan oleh panitia Hari Santri  Nasional (HSN) sekitar dua minggu sebelum hari H. Lomba tersebut meliputi; futsal, kaligrafi, KTI, meme, khot dll. 
Setelah pembagian hadiah, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif yang menghadirkan wakil dari kelima afiliatif tersebut. Topik pembahasannya tidak jauh dari tema; Santri. Selain itu, panitia juga tak lupa menyuguhkan ragam penampilan dari para mahasantri, seperti puisi, drama kolosal, dan lainnya. Acara yang dimulai sekitar pukul 02.00 WLK tersebut, berjalan lancar meskipun hanya dihadiri kurang lebih 300 mahasantri, dan usai sekitar pukul 21.30 WLK.

Rep; Nusaibah.







Post a Comment

0 Comments