Serba-Serbi Pagelaran Pesta Rakyat Setelah Satu Dekade Hilang di Tengah Masisir



Mahasiswa asal Aceh membawakan tari Rapai Geleng

PPMIMesir, Kairo- Sebuah acara yang telah lama absen di tengah masyarakat Indonesia yang berada di Mesir kembali dihelat. Sejak 2010, Pesta Rakyat baru digelar kembali pada awal Oktober 2019 oleh KBRI Kairo sebagai bentuk perayaan akan kemerdekaan Indonesia. perayaan tersebut hadir setelah sebulan lebih kita merayakan hari tujuh belasan. Bukan tersebab disengaja, melainkan agenda KBRI yang padat, perayaan Harlah negara barulah dilaksakan pada hari Senin (1/10) Sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Aji Surya terkait hal tersebut.

Pada saat itu, beliau juga menegaskan bahwa acara untuk Masisir tersebut turut disandingkan dengan peluncuran produk Indonesia yang seminggu lagi akan masuk ke Mesir. Adalah produk Sasa yang turut berpartisipasi dalam acara yang konon memakan biaya hampir menyentuh angka 30 juta tersebut. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Safiqni Hananta sebagai anggota Atase Pertahanan.

Sasa sendiri memboyong chef Marinka sebagai bintang Indonesia untuk hadir dalam pengenalan produk tersebut di hadapan ratusan Masisir yang hadir. Penarik massa memang dibutuhkan untuk acara perkenalan sebuah produk. Sebab semakin banyak penonton, potensi kuantitas penjualan juga ikut melambung.

Dibuatlah acara talk show bersama Chef Marinka yang dimoderatori oleh Syamsu Alam. Walau pada akhirnya talk show tersebut dinilai oleh beberapa penonton tidak lebih dari sekedar iklan, penonton lainnya tetap ada yang ingin bertanya kepada Chef Marinka. Ada yang bertanya terkait kemungkinan penyedap Sasa digunakan pada makanan Mesir (baca; Full). Sebab full adalah makanan khas Mesir yang dipadukan dengan isy (sejenis roti khas Mesir yang berbentuk pipih dengan rongga di dalamnya). Pertanyaan tadi memancing tawa penonton yang sebagian besar duduk di bangku penonton stadion Sporting Club.

Tak henti di sana, pertanyaan kedua dari seorang Masisirwati (mahasiswa putri) kepada chef lulusan Australia turut menundang senyum. Ia menanyakan perihal kemungkinan Sasa dapat menjadi konsumsi yang mampu menguatkan kemampuan hafalan. Chef yang sempat berlalu Lalang di beberapa tv nasional tersebut menjawab dengan sederhana dibarengi senyum, “Kalau mau kuat hafalannya ya belajar.” Penonton bersama para tamu dari KBRI yang duduk tepat berhadapan dengan panggung ikut tertawa.

Acara pun berlanjut. Setelah Mc Formal beralih kepada Mc non formal, penampilan panggung dari kekeluargaan Masisir pun ditampilkan. Walau tidak semua dari 16 kekeluargaan Nusantara yang tampil namun cukup mewakili mahasiswa Indonesia secara keseluruhan.

KSMR sebagai wadah mahasiswa Riau di Mesir, menampilkan deklamasi puisi akan penderitaan masyarakat Indonesia yang terkena asap. Tiga mahasiswi Riau dengan latar video kebakaran hutan, mengenakan masker menutupi hidung dan mulut. Menambah suasana duka terhadap musibah yang menimpa saudara sebangsa di Sumatera dan Kalimantan.

Masih dengan suasana gelap, hanya lampu sorot yang menerangi panggung. Suguhan berlanjut dengan paduan suara dari Wihdah PPMI. Wadah keputrian mahasiswi Indonesia tersebut mengajak rasa nasionalisme penonton dengan lagu Tanah Airku Indonesia. dengan  15 anggota mereka mengenakan baju merah-merah dipandu oleh seorang dirijen yang memakai baju berwarna biru.

Selang beberapa saat kemudian lampu  stadion Sporting Club menyala dengan Lingkup Pasundan dari KPMJB telah siap di atas panggung. Dengan alat musik modern dan angklung khas Jawa Barat,  band tersebut membawakan lagu pop Mesir. Hal tersebut mengundang simpati masyarakat Mesir yang turut hadir menyaksikan Pesta Rakyat di Kota Nasr, Kairo tersebut. Band yang beranggotakan lima personel tersebut membawakan tiga buah lagu. Poco-poco menjadi lagu terakhir yang sukses menggoyang stadion.

Beberapa mahasiswa dan pejabat KBRI turun ke depan panggung bergoyang bersama. Terlihat keceriaan pada wajah mereka, mungkin karena  selama ini pejabat dan mahasiswa jarang berada  pada tempat yang sama. Kali ini mereka menikmati lagu poco-poco sebagai penikmat musik asal Sulawesi Utara tersebut.

Tari dari Sulawesi Selatan pun seakan tak mau kalah, setelah mendengar lagu daerah Sulawesi Utara dibawakan oleh teman-teman dari Jawa Barat. Mewakili Indonesia Timur, Gandrang Bulo sebagai tari khas Bugis dibawakan oleh sembilan penari dengan satu yang memegang gandrang. Dengan baju adat bugis Makassar,  mereka menari mengikuti tabuhan gandrang. Sebagaimana gandrang bulo umumnya, pada dasarnya penuh banyolan namun sarat akan kritikan yang serius.

Dari ujung Sumatera Tari Zapin kemudian ditunjukkan ke hadapan penonton. Tari khas Melayu tersebut dibawakan oleh mahasiswa HMMSU yang berasal dari Sumatera Utara. Dengan baju khas adat berwarna kuning, menghibur dengan tarian gemulai para penarinya. Dengan lagu Zapin Melayu yang dibawakan dengan suara merdu seorang mahasiswi, melengkapi kesempurnaan tari yang begitu rapi.

Beralih menuju Jawa, Rampak Bedug yang diiringi shalawat tampil bertenaga dengan tabuhan bedug berpaduan gerakan silat Banten. Tegas dan berwibawa, dibalut dengan busana putih dan blankon khas suku badui, mahasiswa KMB menampilkan kebuyaan Islami.

Kembali ke Sumatera  bagian paling utara, KMA menghadirkan Rapai Geleng sebagai penutup dari rententan penampilan Kekeluargaan Nusantara. Mahasiswa aceh tersebut menari, menunduk, berjongkok sambil lalu menabuh rapai bergerak dinamis mengikuti iringan lagu yang dibawakan oleh dua mahasiswa yang berdiri di pojok panggung.
Pesta Rakyat ini turut diisi dengan berbagai bazar dari kekeluargaan Nusantara. Begitu ramai. Mulai dari jajananan khas daerah masing-masing, batik, foto dokumentasi kekeluargaan, miniatur rumah, senjata tradisional  hingga jasa kaligrafi dan studio foto menghiasi stand bazar yang disediakan oleh panitia. Tidak hanya itu Rumah Budaya Akar turut memasang buku-buku sastra milik mereka. Termasuk buku Endang Lestari, kumpulan cerpen teranyar tahun ini.

PMIK juga turut hadir dengan beberapa koleksi buku terbaiknya. Dengan membuka jasa peminjaman kepada Masisir di Pesta Rakyat, mereka cukup aktif untuk memberi warna literasi. Bukan hanya mereka berdua, ESI dan Perpustakaan Bergerak pun hadir memberi warna dalam bidang kepenulisan di perayaan kemerdekaan tersebut.
Acara yang berada dibawah tanggung jawab Atdag tersebut juga dihadiri oleh perusahaan travel milik Masisir seperti Talaza. Juga produk kopi dan beberapa cinderamata khas Indonesia turut hadir di stand bazar milik KBRI Kairo.

Pesta Rakyat yang diketuai oleh Aldi Caesar tersebut, mengeluarkan KMKM sebagai juara satu stand bazar dengan hadiah tv dari KBRI Kairo. Dalam acara tersebut turut hadir DCM KBRI Kairo, Muhammad Aji Surya, Kepala Atdag, Iman Adi Purwanto beserta jajaran, Presiden PPMI bersama jajaran, Ketua Wihdan beserta jajaran dan juga Chef Marinka. Malam itu Masisir habiskan dengan wisata kuliner, musik nusantara dan perkenalan berbagai produk Nusantara yang terangkum di dalam Pesta Rakyat 2019.

Rep; Ahsan



Post a Comment

0 Comments