Peluang dan Tantangan Alumni Timur Tengah Menjadi Tema Seminar Bersama Dekan Ushuluddin UIN Banten


Rombongan pejabat dan dosen UIN Maulana Sultan Hasanuddin Banten melawat ke Kairo pada tanggal 27 September 2019. Kunjungan dengan tujuan utama menjalin kerjasama dengan beberapa institusi pendidikan di Mesir ini dipimpin langsung oleh Rektor: Prof. Dr. Fauzul Iman, didampingi Wakil Rektor: Prof. Dr. Syarifufuddin, Prof. Dr. Wawan Wahyuddin dan para dosen lainnya.
PPMI Mesir pun memanfaatkan kedatangan para dosen yang telah kaya akan pengalaman di dunia akademis ini dengan membuka pertemuan bersama mahasiswa dalam tajuk Seminar Pendidikan yang mengangkat tema: “Peluang dan Tantangan Lulusan Timur Tengah dalam Dunia Pendidikan Indonesia”, dengan pembicara Prof. Dr. Udi Mufrodi (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN SMH), Dr. Muhammad Hudaeri (Wadek Bidang Akademik dan Kelembagaan), Dr. Muhammad Shoheh (Wadek Bid. Administrasi Umum dan Perencanaan) dan Dr. Sholahuddin Al-Ayyubi (Wadek Bid. Kemahasiswaan dan Kerjasama).
Dalam dialog yang berlangsung santai ini, para pembicara berbagi pengalaman dan hasil pengamatan yang mereka lihat. Mulai dari keunggulan alumni timteng, yang dari keunggulan itu muncul peluang, ketika ada peluang pasti ada tantangan dan lalu bagaimana menghadapi tantangan tersebut.

Dr. Muhammad Hudaeri, M.Ag selaku narasumber yang diberikan kesempatan pertama berbicara oleh moderator Muhammad Yudha Alamsyah, dalam melihat santri Kairo yang memiliki keunggulan-keunggulan dan tantangan, dosen Filsafat dan Ilmu Kalam itu memetakan pembicaraannya tentang tema ini kepada tiga poin utama.
1. Pembacaan Turats (Keunggulan dan Tantangan).
Turats sebagai khazanah intelektual dalam kajian keislaman kita banyak dikaji oleh adik-adik mahasiswa di Kairo, dan itu hal yang sangat berharga. Apalagi selama ini corak keislaman Indonesia selalu terpengaruh oleh corak pemikiran yang ada di Mesir ini.
Berbicara tentang tradisi yang merupakan sumber keotentikan keislaman, maka ini sebuah keunggulan yang di satu sisi adalah sebuah tantangan. Kalau kita “mabuk tradisi” (tradisionalisme) dengan menganggap apa yang berasal dari timur tengah dan dari tradisi islam yang lampau sebagai yang terbaik, ini dapat menimbulkan ekses-ekses yang kurang baik.. Padahal di manapun -dalam hal ini tradisi- tidaklah semua baik. Islam itu dimanapun harus dipahami oleh orang. Tradisi turas itu para ulama terdahulu berpikir dengan situasi dan kondisinya.
Dari tradisi itulah kita berbicara tentang otentitas islam. Tantangannya, bagaimana kita menyaring mana yang betul-betul otentik dari keislaman, yang nanti akan kita sesuaikan dalam konteks keindonesiaan.
2. Modernitas (Keunggulan dan Tantangan)
Mau tidak mau, kita menghadapi tantangan globalisme yang sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Barat, yang dijadikan tolok ukur dan simbol dari kemajuan. Secara umum, orientasi hampir semua negara berdasarkan dari ukuran Barat itu.
Misalnya dengan mengurutkan secara PDB (Pendapatan Domestik Bruto) suatu negara. “Berbicara tentang ekonomi, kita lebih banyak daripada Mesir, kita 4000 dolar per. Tantangannya, mengapa malah mesir memberikan sumbangan ke mahasiswa Indonesia setiap tahun 30 milyar.
Sekarang yang menjadi tolak ukur kemajuan, adalah materi itu. Mau tidak mau, suatu negara untuk dikatakan maju apabila kekayaannya lebih dari negara yang lain.  Tetapi, kalau mabuk pada hal-hal bersifat materil, maka kita menjadi materialisme. Karena globalisme identik dengan kemodernan, ketika mabuk dengan kemodernan, maka kita bersifat materialis.
Di dalam artikel yang saya baca, sebenernya tidak ada negara miskin, persoalannya adalah mampukah sumber daya suatu negara itu dikelola dengan baik atau tidak.
Negara yang maju itu berarti kemampuan para warganya mengelola dengan baik. Singapura, Malaysia, dari segi kekayaan SDA punya apa? Tetapi karena kemampuan manajerial.
Inilah tantangan untuk kita semua. Bagaimana Indonesia bisa menjadi negara maju.
3. Kemandirian Islam di Indonesia
Islam di Indonesia adalah Islam yang hebat, karena tidak dikendalikan oleh kekuasaan. Ini adalah kekayaan luar biasa yang tidak bisa ditemui di negara-negara lain. Bandingkan dengan negara-negara Timteng misalnya yang selalu dikendalikan oleh Negara. Maka ketika negaranya bergoyang, keagamaannya pun ikut bergoyang.
Kita mempunyai kemandirian dalam organisasi keagamaan. NU dan Muhammadiyah misalnya yang berdiri sebelum Indonesia merdeka dan bisa bertahan dengan segala tantangan. Itu yang patut diapresiasi dari keislaman Indonesia.
Dari keunggulan inilah, peluang-peluang bisa kita lihat. Masyarakat muslim tidak membutuhkan negara sebetulnya. Pondok pesantren bisa mengelola sendiri dan bisa memiliki paham-paham yang dikembangkan sendiri.
Tetapi sekaligus itu juga adalah tantangan, bagaimana muslim di Indonesia mempertahankan sikap wasathiyah (moderasi dalam keberagamaan), yang mana sekarang yang justru sering digerogoti. Karena negara tidak bisa ikut campur dalam urusan-urusan keagamaan”, maka gerakan-gerakan transnasional, terorisme menggerogoti kita di situ.
Tantangannya terlihat, bahwa kita mempunyai ciri khas dalam keberagamaan dan kemandirian. Para lulusan timur tengahlah yang dulu punya peran penting membangun hal itu, dengan membangun pesantren, menjadi tokoh masyarakat, menjadi pengajar. Di sisi lain mereka menentukan mana wilayah kekuasaan negara dan mana wilayah kekuasaan organisasi.
Itu adalah hal-hal yang sangat prinsipil yang kita miliki sekaligus membuka ruang untuk berperan di situ. Tidak mesti menjadi pegawai negeri. Masyarakat masih butuh banyak yang mengurus. Kalau ditinggalkan, justru negara akan terlalu banyak masuk ke dalam dan itu mungkin tidak baik.
Kekuatan masyarakat sipil yang berdasarkan kegamaan itu hanya di Indonesia. Kalau di negara sekuler Barat, masyarakat sipilnya ya menganut paham sekuler juga. Berarti di negara-negara yang lain tidak memiliki keuatan sipil. Jadi kita bisa berperan di situ.  Keunikannya, masyarakat sipil berdasarkan entitas keislaman dan itu yang harus kita pelihara supaya tetap di dalam moderasi. Supaya negara juga tidak macam-macam, dikontrol dalam nilai-nilai keislaman.

Sedangkan Prof. Dr. Udi Mufradi, dekan FUDA yang terkenal sebagai penceramah ulung memberikan motivasi penyemangat kepada mahasiswa dengan menceritakan pengalaman panjangnya dari 35 tahun yang lalu, mulai dari Lc hingga menjadi profesor.
“Adik-adik mahasiswa, harapan bangsa, agama, orang tua dan calon mertua.” Bukanya menyapa hadirin yang disambut gelak tawa.
“Dulu ayah saya berpesan, kalau bercita-cita jangan yang rendah-rendah. Karena kalau rendah, terus tidak tercapai malah makin rendah. Ketika dulu ditanya guru SD mau jadi apa. Teman-teman menjawab macam-macam, ada yang ingin jadi guru, presiden, polisi dan dokter. Saya sendiri berbeda. Saya bilang: “Saya ingin menjadi profesor, doktor, keliling bumi dan naik bulan.” Waktu itu guru saya geleng-geleng kepala. Karena untuk dapat doktor pada zaman itu sangat susah. Untuk menjadi sarjana muda saja harus jual sawah sampai empat kotak. Naik bumi lagi. Padahal dulu naik pesawat tidak terbayang. Yang ada setiap pesawat lewat, kita minta uang.”
“Saya kuliah di Iraq tahun 1981 ketika sedang perang antara Iraq dan Iran. Sempat terjadi perdebatan antara saya dan bapak. Saya yang ingin memilih kuliah Ushuluddin, dibilang oleh bapak “Mau jadi apa kamu kalau kuliah Ushuluddin? Masa depan kamu suram nanti, sudah hitam, suram lagi.” Saya dianjurkan masuk Syariah biar bisa jadi hakim. Karena hakim pada zaman itu gajinya 10 juta. Sedangkan motor yamaha Twin harganya 70 ribu.
Saya jawab: “Ayahanda, saya masuk jurusan ini bukan karena ingin materi, tapi karena ingin membela tuhan. Ketika membela tuhan, berarti risikonya siap ditanggung. Apalagi janji tuhan:
يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات
Yarfa’ itu fiil mudhari, yang berarti berlaku untuk terus menerus. Sedangkan Ūtu Fi’il Madhi, yaitu orang yang sudah mengaktualisasikan nilai keimanan dan keilmuan.
Pernah setelah selesai S1 saya ingin berhenti menempuh pendidikan sampai di situ. Tetapi saya mimpi didatangi kakek mengingatkan cita-cita itu dan meminta untuk melanjutkan.”
Hal yang dijanjikan Allah itu adalah Darojat. Mencakup pahala, kedudukan di sisi Allah. Bahkan termasukan materi dunia. Singkat cerita, setelah perjalanan panjang dengan i’tikad pada janji Allah itu, saya ditakdirkan menjadi penceramah. Kalau dulu ayah ingin saya menjadi hakim, kini menjadi penceramah, yang gajinya tidak kalah. Dalam bulan Rajab ada 60 panggilan. Satu panggilan 9 juta. 
Darojat ini pun mencakup Jodoh. Terus terang, dulu ketika tsanawiyah pengen seperti teman-teman. Punya pacar. Sebab saya ini termasuk intelek, item, tengil, jelek. Tetapi setelah menjadi penceramah dan banyak keliling mengisi. Di suatu kesempatan berceramah di acara di Lampung, saya bertemu dengan jodoh. Saya penceramah saat itu dan di menjadi MC. Usai ceramah saya langsung lamar dan diterima.
Istri saya yang sekarang ini bukan main, MACAN TUTUL (Manis Cantik, Taat dan Tulus).


Acara seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab. Bagi yang bertanya, diberikan dorprize oleh para pembicara.















Post a Comment

0 Comments