PPMI Adakan Sharing Session, Alumni Simposium PPID dan AYIMUN Bagi-bagi Pengalaman dari Konfrensi Internasional



Kairo, ppmimesir- Sharing Session yang menghadirkan alumni simposium internasional dari mahasiswa Indonesia di Mesir diadakan di aula Limas. Para alumni simposium yang menjadi panelis dalam acara tersebut mengungkapkan hasil dari pertemuan internasional yang mereka hadiri. 

Dari delapan panelis, dua di antaranya merupakan alumni dari simposium PPI Dunia yang diadakan di Johor Malaysia, Kemas Ahmad Fadhluzzakiyy dan Alfy Isa M. Dua mahasiswa dari simposium kawasan PPID Kawasan Timtengka di Yordania, Muhammad Rayhan dan Hafizd Alharomain Lubis, dan empat alumni AYIMUN (Asian Youth Internasional Modeling United Nations) yang diadakan di Malaysia, Gatra Lesmana, Faramuthya S, Nisrina Ranaa R, Kiki Mustakimah.

Presiden PPMI, Arief Mughni dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini dimaksudkan agar alumni simposium internasional dapat membagikan pengalaman dan ilmunya kepada Masisir. Pun hal ini bisa sebagai jawaban atas pertanyaan yang sering kita dengar terkait hasil dari simposium yang selama ini digelar. Ia pun mengharap adanya follow up dari acara ini,  “Kami harap teman-teman yang hadir dapat menjadi tim kajian strategis untuk membahas isu-isu Internasional.”

Setiap panelis memberikan isu terkait pembahasan simposium yang mereka hadiri. Kemas dan Alfy memberikan gambaran terkait PPI Dunia dan simposium yang ke-11 tersebut. “Simposium  adalah acara tahunan PPI Dunia. Dengan beranggotakan 57 negara, PPID terbagi menjadi tiga bagian kawasan. Yaitu AMEROB, TIMTENGKA dan ASIA-OCENIA. Dalam simposium tersebut ada 5 komisi yang menjadi pembahasan, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan, energi dan sosial budaya.” Terang Kemas selaku pembicara pembuka.

Alfy Isa yang juga menjadi delegasi utama PPMI Mesir bersama Kemas di simposium Malaysia menyoal tentang tema simposium “Tema yang diangkat di sana itu inovasi berkelanjutan.” Terang Isa. Ia pun menerangkan bahwa alasan dibalik pengangkatan tema tersebut berkaitan dengan potensi demografi Indonesia yang bakal memiliki komposisi 60 persen penduduk usia produktif pada tahun 2030.
Dengan begitu peran pemuda dapat mewujudkan masa keemasan Indonesia dengan inovasi berkelanjutan. Ia pun. Ia pun mengatakan bahwa Inovasi adalah, “Ketika ada masalah, (kemudian) langsung diperbaiki maka itu juga adalah inovasi.”

Dari symposium Timtengka, Hafidz dan Rayhan membagi pengalamannya terkait apa yang dibahas di Jordan. Muhammad Rayhan Kawasan Timtengka Jordan: Terorisme dan Palestina. Pada acara yang berlangsung selama empat jam Rayhan membincang hal-ihwal Palestina. 

Ia mengungkapkan bahwa peran Indonesia selama ini dalam membantu Palestina selain diplomasi, Indonesia telah membantu dalam hal ekonomi. “Indonesia itu dalam membantu Palestina, membebaskan ekspor kurma dan zaitunnya masuk ke Indonesia. Dari bidang Diplomasi pun Indonesia membuka kedutaan kehormatan di Ramallah. Pun dari bidang pendidikan Baznas memberikan 130 beasiswa untuk Palestina,” ungkap Hafidz, partner Rayhan yang sama-sama mahasiswa kedatangan 2017. 

Rayhan juga mendorong peserta yang hadir untuk terus berupaya mencari solusi bagi Palestina. Dengan mengenal lebih dalam Palestina dan isu-isunya.  Hal yang menarik menurutnya, kala berjumpa dengan pemateri asal Palestina. saat bertemu dengan ketua DKM al-Aqsha, Miss Abu Zaid, ia menanyakan tentang cita-cita penduduk Palestina. Miss Abu Zaid menjawab "Kami hanya ingin hidup." Hal ini menurut Rayhan perlu menjadi perhatian Masisir.

Sedang dari alumni AYIMUN, Gatra mengutarakan perbincangan yang diangkat dalam simulasi konfrensi PBB tersebut. Ia yang bergabung dalam komisi yang membahas tentang OIC. Dalam sidang simulai PBB tersebut ia mengungkapkan peran OIC dalam kancah internasional. “OIC sebagai organisasi negara-negara Islam pernah menggugat Myanmar terkait kejadian Rakhine. Ini adalah salah satu kerja dari OIC dalam menyelesaikan konflik yang melanda umat Islam.” 

Hal ini sejalan dengan tema di AYIMUN yang mengangkat pengaruh negara non-Islam ke dalam negara Islam.

Dalam acara ini, Cecep Taufikurrahman turut hadir mewakili Atdikbud KBRI Kairo.

Rep; AJZ

Post a comment

0 Comments