Tujuh Fakta tentang Grand Syekh Ahmad Thayyib yang Tidak Banyak Diketahui




Tidak pernah ternyana bagi seorang Muhammad Ahmad Thayyib, seorang alim azhari yang bermukim di Kampung Qornah Luxor ketika mendengar tangisan jabang bayi yang baru lahir pada 6 Januari 1946 dari rahim istrinya, bahwa putranya yang diberikan nama Ahmad itu akan menjadi sang imam besar ke-50 bagi al-Azhar al-Syarif.

Impian tertingginya cukup melihat kedua putranya Ahmad dan abang kandungnya Muhammad untuk menjadi dua ulama besar Azhari yang diacungi jempol di tengah kampung yang terletak di tengah pegunungan di Sha'id Mesir. Makanya, sejak kecil, anaknya dimasukkan ke pesantren Ma'had al-Azhar.

Tetapi Ahmad sang putra, menampakkan kecerdasannya semenjak masih belia. Dia selalu unggul dalam setiap jenjang pendidikan, hingga pada saatnya masuk Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar di Kairo, hingga meraih magister dan doktoral. Kemudian terbang melanjutkan postdoctoral-nya menuju Universitas Sourbone Prancis.

Berkat kecerdasan dan profesionalitas, karir dan jabatan yang dilakoni putra pedalaman Mesir (Sha'id) itu terus melejit, hingga menduduki jabatan Mufti Agung Republik Arab Mesir, yang kemudian jabatan itu ia lepas karena ditunjuk menjadi Rektor Universitas Al-Azhar. Puncaknya, pada 19 Maret 2010, terbit Kepres menunjuk pengikut Madzhab Maliki dangan Thariqah Khalwatiyyah itu menjadi Grand Syekh Al-Azhar menggantikan Grand Syekh yang wafat, Muhammad Sayyid Thanthawi.

Hampir genap sepuluh tahun sudah beliau mendapatkan kemulia berkhidmah untuk lembaga keagamaan dan pendidikan yang terkemuka ini, dan banyak pencapaian-pencapaian serta kemajuan yang beliau bawa.

Bertepatan dengan peringatan ulang tahun yang ke-74, kali ini ppmimesir.id menyajikan fakta-fakta yang tidak banyak diketahui dari Grand Syekh al-Azhar. Berikut tujuh di antaranya:

1.       Tinggal Sendirian di Sebuah Flat
Walaupun memegang posisi-posisi top leader pada lembaga yang mengayomi jutaan manusia ini, Grand Syekh memilih menjalani kehidupan sederhana. Beliau tinggal dan mengurus keperluannya sendiri di sebuah flat di Kairo, sedangkan keluarganya di kampung halamanya. Beliau rutin pulang kampung dari Kairo ke Luxor dalam setiap dua pekan, dan menetap tiga hari bersama keluarga dan masyarakat kampung halamannya agar hubungan tetap terjalin kuat.
2.       Sahah al-Thayyib yang Melayani Berbagai Kebutuhan
Grand Syekh memiliki dua anak. Seorang putra bernama Muhandis Mahmud dan seorang putri bernama Zainab. Mereka tinggal di Luxor sekaligus mengawasi eksistensi Shahah al-Thayyib milik marga al-Thayyib yang terpandang di kawasan Sha'id Mesir. Kedermawanan dan kemuliaan keluarga al-Thayyib disalurkan melalui sahah ini. Kerapkali sahah itu menjadi tempat perkumpulan hangat orang-orang kampung, masyarakat kampung sekitarnya, menjamu dengan hidangan makanan siapapun tamu yang datang, baik dari daerah-daerah di Mesir maupun turis mancanegara dari berbagai latar belakang dan agama yang datang ke Luxor sebagai salah satu ikon destinasi pariwisata Mesir.
Setiap pulang kampung, Grand Syekh mengambil peran menjadi hakim untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang diadukan masyarakat.
Tersedia juga milik keluarga besar al-Thayyib yayasan sosial Jam'iyyah Khairiyyah yang bergerak memenuhi berbagai keperluan, termasuk melunaskan bayaran untuk orang-orang yang terlilit hutang, menyantuni fakir miskin, anak yatim, serta membiayai pendidikan mereka.
3.       Tidak menerima gaji dan tidak menikmati fasilitas
Imam Akbar tidak mengambil gaji yang menjadi haknya selama menjabat sebagai Grand Syekh. Dengan alasan beliau menunaikan tugas ini murni karena amanah berkhidmat untuk Islam, maka menurutnya, tidak berhak mengambil imbalan kecuali dari Allah.
Beliau juga tidak menikmati fasilitas-fasilitas dinas yang disediakan. Semua gaji dan fasilitas itu beliau alokasikan untuk membantu orang-orang yang berkebutuhan mendesak, membangun rumah sakit, dispensasi untuk korban terorisme dan kecelakaan. Beliau banyak sekali menghadiahkan haji dan umrah untuk para keluarga korban.
4.       Rahasia mengapa dipilih oleh Husni Mubarak sebagai Grand Syekh
Ketika wafatnya Grand Syekh Muhammad Sayyid Tantawi, ada lima nama kandidat Grand Syekh yang diajukan sebagai opsi oleh Dewan Senior Ulama al-Azhar untuk ditunjuk Presiden Husni Mubarok. Saat itu, sistem penunjukan Grand Syekh bersifat aklamatis, sebelum dikembalikan lagi dengan sistem musyawarah Dewan Senior Ulama Al-Azhar.
Kendati nama-nama selain beliau dapat dikatakan lebih mumpuni dari segi keilmuan dan kapabilitas, pertimbangan yang diambil oleh Husni Mubarok -yang saat itu sedang dirawat di Jerman karena mengidap kanker pankareas- memilih Syekh Ahmad al-Thayyib adalah karena penguasaan beliau yang baik pada Bahasa Inggris dan Bahasa Prancis, dengan harapan akan lebih menampilkan keindahan Islam kepada Barat dan lebih open minded.
5.       Sudah Dikaderisasikan oleh Grand Syekh Muhammad Thantawi
Ketika beliau menanggalkan jabatan mufti agung dan memilih menerima jabatan rektor Universitas al-Azhar, banyak yang menyangkal keputusan beliau tersebut, padahal jabatan mufti lebih prestisius daripada rektorat dan akan memuluskan jalannya menjadi Grand Syekh.
Syekh Ahmad Thayyib sendiri mengungkapkan kepada wartwawan alarabiya.net, bahwa dalang di balik pengangkatan beliau itu adalah Syekh Thantawi. Syekh Ahmad Thayyib dicintai dan diberikan kepercayaan lebih oleh Syekh Thantawi, dan mengatakan kepadanya bahwa jabatan rektor adalah jalur tepat untuk melanggeng kepada jabatan Grand Syekh.
6.       Pernah bergabung di partai politik
Di antara sikap yang menimbulkan kontroversi dan perdebatan dari Syekh Ahmad Thayyib adalah keputusan beliau bergabung pada partai politik, yaitu komisi strategi Partai el-Wathan pada masa Presiden Husni Mubarok.
Usut punya usut, alasan beliau bergabung ini ternyata bukan sembarangan. Ketika dimintai klarifikasi, beliau membeberkan bahwa Komisi Strategis Partai al-Wathan yang diketuai kala itu oleh Jamal Mubarok itu dialah sebagai eksekutor pemerintahan Mesir yang sesungguhnya, ketika pergerakan Husni Mubarok sedikit dilumpuhkan oleh sakit yang diidap. Maka kehadiran Syekh Ahmad Thayyib untuk menjadi bagian dari sistem adalah untuk mengawal dan menjaga kebijakan pemerintah seorang Jamal yang belum terlalu matang, yang ditakutkan dapat merongrong al-Azhar sebagai menara kegamaan yang telah berdiri ribuan tahun ini.
Itu terbukti, ketika faktor tersebur kembali stabil, Syekh Ahmad Thayyib langsung melepaskan koalisinya dari partai tersebut.
7.       Menjadi Jalan Hidayah Masuk Islam bagi Banyak Orang Eropa
Ketika beliau mengenyam pendidikan di Paris, banyak dari orang Barat yang memeluk agama Islam, termasuk semua anggota keluarga pemilik rumah tempat beliau menetap selama di Paris karena melihat keindahan akhlak dan toleransi yang beliau tampilkan dalam sehari-hari. 

Semoga beliau selalu sehat wal afiyat dan panjang umur.

Post a comment

0 Comments