Usai Dianugerahi Bintang Tanda Penghormatan, Quraish Shihab Bincang Santai dengan Masisir



Prof. Dr. Quraish Shihab bersama Bapak DCM Aji Surya, Bapak Atdikbud KBRI Kairo Dr. Usman Syihab dan PPMI Mesir.

Selepas menghadiri acara Muktamar Internasional al-Azhar bersama para pemuka dan cendekiawan muslim dari belahan dunia, Pak Quraisy Shihab diundang mengisi pertemuan dengan santri Al-Azhar di Wisma Nusantara Rob’ah al-Adawiyah (Kamis sore, 29-01-2020). Dalam muktamar akhir pekan ini, beliau mendapat Anugerah Bintang Tanda Kehormatan Tingkat Pertama dari Pemerintah Mesir yang diserahkan langsung Perdana Menteri Mesir, Mustafa Madbhuli, mewakili presiden Republik Arab Mesir, Abdul Fattah Sisi.

Merupakan anugerah tak terhingga bagi santri al-Azhar yang menghadiri acara bincang santai kali ini. Sebab, fomulir pendaftaran yang tersedia sangat terbatas sehingga yang diperbolehkan adalah yang telah mendaftarkan diri via online saja.
Sebagaimana familiar, Prof. Qurais Shihab merupakan alumnus al-Azhar yang menjadi salah satu duta terbaik Indonesia. Beliau merupakan tokoh tafsir yang dikenal menampilkan pesona Islam yang santuy dan damai sebagaimana seringkali menyeru bersikap moderat dalam beragama.
Dalam acara yang menghabiskan sekitar satu jam lebih, Pak Quraisy, demikian sapaannya, memulai kalamnya dengan bernostalgia. Beliau menceritakan ketika mendapat kiriman surat dari orang tuanya pada saat menjadi Mahasiswa, surat itu baru sampai ke Mesir setelah tiga bulan, “itupun dibaca dengan diulang-ulang”. Candanya diiringi gelak tawa hadirin. Dalam surat ini, ada dua pesan dari ayah beliau yang tidak dapat dilupakan; Pertama; Bergaullah dengan orang-orang yang engkau bisa mengambil ilmu manfaat bagi diri anda. Dan Kedua ; Gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa karena bahasa merupakan kunci (segala) pengetahuan. Pesan sang ayah, Habib Abdurrahman.
Pak Quraisy Shihab memberikan motivasi teruntuk anak muda agar selalu bangkit, dan semangat belajar. Hal ini disampaikan saat beliau mengutip sepotong quotes sang Revolusioner Islam, Muhammad Abduh dalam perkataannya “Berikanlah saya sepuluh orang untuk saya didik, maka sepuluh orang itu cukup untuk mengubah dunia”. Ujarnya. Tentu saja, ini merupakan pesan emas yang luar biasa. Sebab, pelajar Indonesia di Mesir secara kuantitas saat ini tidak diragukan lagi jumlahnya sehingga secara tidak langsung, beliau ingin menyampaikan agar kita saling bahu membahu dalam memajukan bangsa dan agama.
Sebelum jauh meloncat, Pak Quraisy mengangkat kisah seorang anak muda yang memiliki impian besar untuk merubah dunia namun, dalam proses perjalanannya dia salah dalam memulai mimpinya. Konon, terdapat seseorang dipembaringan maut menceritakan kisah pribadinya; “Dulu saya bercita-cita mengubah dunia, tapi saya gagal, maka saya turunkan target saya ingin merubah negeri saya namun, kemudian saya gagal. Setelah itu, saya turunkan lagi target itu ingin mengubah suku saya, tapi sayapun gagal dan saya turunkan lagi target itu ingin mengubah keluarga saya, namun lagi-lagi sayapun gagal. Sekarang di pembaringan maut ini, saya sangat sadar bahwa seandainya saya dulu memulainya dengan berusaha merubah diri saya terlebih dahulu. Bisa jadi, saya mampu untuk mengubah keluarga, dan demikian saya akan bisa mengubah suku yabg pada akhirnya saya mampu mengubah dunia”. Tuturnya dengan penuh meresapi.

Sebelum memasuki sesi tanya jawab, ahli tafsir yang juga produktif ini berharap agar para pelajar mencari guru atau pengajar yang betul-betul profesional dalam berilmu dan tentunya tidak berseberangan dengan manhaj al-Azhar. Sebab, akhir-akhir ini beliau mendapat kabar ada beberapa pelajar yang berupaya mencari guru dari “luar” al-Azhar sehingga perlu diluruskan. Beliau mengkisahkan pribadinya bahwa setiap kali mau berangkat ke kampus, beliau tidak jarang berangkat satu bus bersama Syekh Abdul Halim Mahmud (Grand al-Azhar pada masanya). Pada kondisi inilah, beliau banyak memanfaatkan momen-momen ilmiahnya untuk saling berbagi ilmu pengetahuan demi memperdalam nilai-nilai keislaman. Karena itu, beliau mengatakan, guru yang paling berpengaruh dalam pribadinya yaitu ada dua; Syekh Abdul Halim Mahmud mantan Syaikhul Azhar dan Habib al-Fakih pengasuh Darul Hadis Malang yang mondok kurang lebih dua tahun sebelum kemudian beliau hijrah ke bumi kinanah. Tegasnya.
Sesi Dialog 
Memasuki termin soal jawab, para santri al-Azhar terlihat antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang sekian lama terpendam dalam hatinya, baik menyangkut teori belajar maupun seputar ke-Azharan.
Salah dari mereka menanyakan tentang cara pak Quraisy beriteraksi dengan tafsir sebagaimana dilakukannya selama kurang lebih 60 tahun. Artinya ketika membaca tafsir Fakhrur Rozi Misalnya, atau al-Kasyaf dan lain sebagainya. Nah Bagaimana langkah terbaik untuk memulainya. Tanya Beben yang juga alumunus Baitul Qur’an didikan pak Quraisy Shihab.
Mengenai pertanyaan ini, pak Quraisy menyampaikan beberapa hal bahwa dalam menelaah kitab tafsir, pertama kita perlu memilih buku yang akan kita baca, terutama yang perlu dipertimbangkan adalah “Pengarangnya”. Kita misalkan ingin mengaji kitab tafsir, sementara pengarangnya bukan ahli tafsir tentu ini tidak apple to apple. Kedua, beliau menyarankan agar kita tidak pernah menilai kebenaran dari pribadi seseorang. Menurut beliau, “menilai pribadi seseorang kuranglah tepat dan bijak. Karena itu, lanjutnya; hendaklah kita menilai kebeneran itu dari ide dan gagasanya, bukan dari personnya”. Sebagai contoh, beliau menampilkan sebuah kasus pada masa Nabi. Di antara sahabat, ada yang menilai keislaman itu bukan dari ide yang terdapat dari Islam itu sendiri, melainkan karena melihat akhlak Nabi Muhammad saw. Penilain semacam ini tentu yang dipertimbangkan adalah pribadi Nabi sehingga banyak di antara mereka yang berkata bahwa ; Tidaklah orang seperti Nabi ini adalah pembohong (dilihat) dari wajahnya. Artinya, cara yang digunakan sahabat ini yaitu dinilai dari sisi wajah Nabi di mana pada era kita sekarang penilaian demikian tidak lagi berlaku. Demikian sementara jawabannya.
Penanya asal Madura Muchtar Makin Yahya mengajukan pertanyaan tentang cara mengkombinasikan pendekatan ilmu fikih dan tafsir, mengingat sebelum sampai ke Mesir dirinya sudah terbiasa berkomunikasi dengan fikih sementara saat ini dia mengambil jurusan Tafsir.
Usai mendengar pertanyaan tersebut, dengan khas humorisnya, pengarang Tafsir al-Misbah ini menjawab dengan bertanya balik kepada penanya “Tafsir al-Qurubi menurut anda lebih menekankan kepada pendekatan apa? Tanyanya.
“Itu adalah tafsir bercorak fikih”. Jawab sengenaknya.
“Demikian dengan tafsir dan fikih, agar bisa menguasai tafsir bercorak fikih, kita perlu banyak berinteraksi dengan tafsir yang bernuansa fikih”. Paparnya.
Dari jawaban ini, Abi Najwa ini seolah melemparkan pancing kepada kita, khususnya jurusan tafsir bahwa dalam menggabungkan tafsir dan fikih, kita perlu menelaah lebih banyak lagi tentang literatur-literatur yang memiliki corak tafsir bil Fikih, sebagaimana terpapar.
Perlu diketahui bahwa pak Quraisy adalah tokoh tafsir yang tawadhu dan tidak suka dipanggil habib atau kiai walaupun secara garis nasab, beliau merupakan keturunan Habaib dan atau secara keilmuan pun beliau sudah sangat pantas menyandang title Kiai. Hal ini terlihat saat beliau menyanggah seseorang yang ingin menyapa atau memanggil beliau dengan ungkapan habib atau kiai, lantas beliau menolaknya. Termasuk dalam acara kemarin, salah satu dari sahabat penanya memanggil beliau dengan sapaan Habib. Namun, dengan sontak beliau menolak dan berkata “Saya belum sampai pada Maqom habib atau kiai, karena (gelar) itu sangat mulia sekali, cukup panggil saya pak Quraisy saja”. Tuturnya penuh haru.
Itulah beberapa poin yang bisa diangkat dalam acara bincang santai bersama Prof. Dr Quraisy Shihab. Dan tentu saja masih banyak lagi pesan kesan tokoh tafsir nusantara ini yang belum tersalurkan dalam catatan ini. Namun demikian, mudah-mudahan yang sedikit ini bisa mengandung keberkahan yang bernilai di sisi-Nya.

-----
Lihat Video steamingnya di sini 
Rep: Muchtar Makin Yahya



 


Post a comment

0 Comments