Di Tengah Pandemi, Putra Minang ini Disidang Doktoral di Universitas Al-Azhar. Gimana Hasilnya?


Dr. Muhammad Irfan Usai Sidang


Sejak pemberlakuan Hazhar (PSBB) di Mesir mulai pertengahan Maret 2020, berbagai kegiatan kemahasiswaan di dalam kampus Universitas Al-Azhar juga dibekukan, mulai dari perkuliahan, bahkan ujian, termasuk jadwal-jadwal sidang magister dan doktoral yang terpaksa ditunda.


Tetapi pada hari ini, Ahad 7 Juni 2020, mahasiswa Indonesia di Mesir menerima hembusan angin kabar gembira dengan lahirnya doktor baru dari Program Studi Tafsir & Ulumul Quran Fakultas Ushuluddin. Adalah Muhammad Irfan bin Rusnal Zain, putra Tanah Minang yang berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul al-Dakhîl Fî Tafsîr al-Azhar Li al-Mufassir al-Brufisur al-Duktûr al-Hâj Abdul Malik Karîm Amrullâh al-Mulaqqab bi "Buya Hamka" di hadapan tim sidang.



Disertasi yang mengangkat Tafsir karya ulama nusantara terkenal Prof. Dr. Buya Hamka (w. 1981 M) dibimbing oleh dua guru besar pada bidang ini, yaitu mantan kepala Prodi Tafsir & Ulumul Quran Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Mahmud Luthfi Muhammad Ghad dan Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ushuluddin Prof. Dr. Toha Abdul Khaliq. Dia melakukan studi kritis atas infiltrasi-infiltrasi seperti kisah-kisah yang tidak bersandarkan sanad yang shahih, Israiliyyat dan khurafat yang mungkin tersisipkan dalam Tafsir Al-Azhar tersebut.



Pengujinya pun tidak kalah berkelas, yaitu duet antara dua Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Abdul Fattah Abdul Ghani Al-'Awwari (Dekan Fak. Ushuluddin Kairo) sebagai penguji internal dan Prof. Dr. Muhammad Abdul Malik Mustofa (Dekan Fak. Ushuluddin Asyut) sebagai penguji eksternal.



Sidang berlangsung secara ekslusif hanya dihadiri oleh civitas akademika petugas-petugas berkepentingan dalam acara tersebut dengan tetap mematuhi protokol-protokol kesehatan di tengah pandemic covid-19 ini. Tidak seperti biasanya yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh ramai mahasiswa Indonesia, kali ini hanya Bapak Atdikbud Dr. Usman Syihab dan dua mahasiswa Indonesia saja yang diperkenankan hadir.



Di akhir, ketua tim sidang Prof. Dr. Mahmud Luthfi mengumumkan hasil dari berlangsungnya sidang tersebut: "Kesepakatan tim sidang menetapkan: menganugerahkan peneliti atas nama Muhammad Irfan bin Rasnal Zain gelar akademik Doktor dengan predikat al-Martabah al-Tsaniyah dan memberikan waktu tiga bulan untuk melakukan revisi kembali atas koreksian-koreksian yang diberikan dalam sidang."



PPMI Mesir mengucapkan "Selamat kepada Dr. Muhammad Irfan atas gelar doktoralnya, semoga bermanfaat semua mahasiswa di sini menjadi inspirasi, serta bagi tanah air dalam mengemban amanah menyebarkan risalah Al-Azhar dengan baik."

--
Rep: Zeyn Ruslan 



Post a comment

0 Comments