Tentang Palestina; Dari Mahasiswa Timtengka Untuk Dunia

Pada tanggal 20-23 Juni 2019, Persatuan Pelajar Indonesia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPI Timtengka) mengadakan simposium yang bertempat di Amman, Yordania. Acara ini melibatkan Persatuan Pelajar Indonesia dari 16 negara yang berada dalam kawasan Timur Tengah dan Afrika. Pada simposium kali ini, hanya perwakilan dari 7 negara kawasan yang dapat menghadiri, sementara selainnya tetap mengikuti berbagai rangkaian acara melalui media online. PPMI Mesir menjadi salah satu persatuan pelajar Indoensia yang mengirimkan delegasinya untuk menghadiri simposium kawasan ini.
Simposium kawasan tahun 2019 kali ini mengangkat tema “Dari Indonesia, Untuk Palestina, Menuju Perdamaian Dunia”. Tema ini diangkat dikarenakan Yordania, sebagai tuan rumah, selama ini menjadi salah satu negara yang menerima pengungsi asal Palestina terbesar. Selain itu, hubungan bangsa Indonesia dan Palestina sudah sangat dekat sejak sebelum kemerdekaan RI. Terlebih, para mahasiswa Indonesia yang berada di kawasan ini tentunya akan lebih mengetahui dan memahami situasi Palestina sebenarnya.

Simposium kali ini dihadiri oleh nama-nama besar dalam urusan diplomasi maupun aksi kemanusiaan untuk rakyat Palestina. Diantara pembicara yang hadir adalah, Andi Rachmianto (Duta Besar RI Yordania-Palestina), Abdulsattar al-Qudah (Direktur pengurusan Masjid al-Aqsha), Mrs. Abeer Zayed (Aktivis Palestina), serta perwakilan-perwakilan dari lembaga-lembaga non-pemerintahan (NGO) yang aktif dalam aksi-aksi sosial untuk rakyat Palestina seperti UNRWA, Aksi Cepat Tanggap (ACT), juga Nusantara Palestina Center (NPC). Selain isu Palestina, simposium ini juga turut mengangkat isu radikalisme sebagai salah satu panel diskusi. Terkait dengan tema radikalisme, hadir tokoh-tokoh penting yang berperan penting dalam isu radikalisme di level nasional, di antaranya Ahmad Zamarkasyi (Bagian Politik Khusus KBRI Yordania) dan juga Ali Fauzi Manzi (Mantan Praktisi Aksi Terorisme).
Arsip Panitia Simposium Timtengka 2019

“Indonesia akan selalu bersama Palestina”, begitu Andi Rachmianto, Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina dalam sambutannya dalam acara simposium ini. Selain itu, Andi Rachmianto menegaskan bahwa Indonesia telah melakukan berbagai upaya konkret dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Di antara upaya yang telah dilakukan oleh Bangsa Indonesia adalah pemberlakuan Zero Tarif pada ekspor beberapa produk Palestina, di antaranya minyak Zaitun dan kurma. Sementara dalam masalah pendidikan, melalui Baznas, Indonesia memberikan 130 beasiswa untuk pelajar Palestina, bersamaan dengan itu telah dilakukan penandatanganan forum rektor Indonesia yang mencakup lebih dari 30 Perguruan Tinggi Nasional terkait dengan akses pelajar Palestina. Duta besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina ini kemudian menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina merupakan amanah konstitusi yang harus ditunaikan.

Sementara itu, Abdulsattar al-Qudah (Direktur Kepengurusan Masjid al-Aqsha) dan Abdullah al-Abaddi (Menteri wakaf situs-situs suci) menegaskan bahwa penjagaan Yerussalem khususnya al-Aqsha sejatinya adalah warisan dari kerajaan Yordania yang harus dijaga. Dalam sambutannya, Abdullah al-Abaddi juga menjelaskan panjang lebar peran Yordania terhadap penjagaan Yerussalem terkhusus al-Aqsha. Dalam kesempatan ini juga, Abdullah al-Abaddi dan Abdulsattar al-Qudah memberikan kabar terkini dari kondisi masjid al-Aqsha. Menurut keduanya, kini penggalian di sekitar masjid al-Aqsha yang dilakukan oleh Zionis Israel semakin banyak. Padahal, masih menurut keduanya, tanah tersebut merupakan tanah wakaf Kesultanan Utsmani yang harus dijaga. Selain itu, keduanya menyinggung beberapa hal terkait dengan pendidikan dan institusi pendidikan yang ada di dalam masjid al-Aqsha yang situasinya agak mengkhawatirkan setelah adanya pelarangan aktivitas ajar mengajar dalam sekolah oleh Zionis Israel.

Abeer Zayyad selaku aktivis kemerdekaan Palestina, melengkapi informasi seputar masjid al-Aqsha secara khusus dan Yerussalem pada umumnya dengan  memaparkan kejahatan-kejahatan tentara Zionis Israel dan juga perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Palestina sebagai respon dari kejahatan yang dilakukan. Menurut Abeer Zayyad, 30 Oktober 2014 merupakan awal mula munculnya perang panas yang masih terjadi hingga hari ini. Hari itu, Zionis Israel mulai melakukan pelarangan terhadap aktivitas ibadah di area Masjid al-Aqsha. Hal ini kemudian memicu munculnya aksi-aksi perlawanan dan pecahnya perang berkepanjangan. Selain itu, masih menurut Abeer Zayyad, Zionis Israel juga melakukan penjajahan dalam bidang akademik, yaitu dengan cara melakukan intervensi dalam kurikulum pendidikan anak-anak Palestina yang berujung pada pengakuan negara Israel secara utuh. Abeer Zayyad melengkapi pemaparannya dengan kondisi ekonomi rakyat Palestina khususnya mereka yang tinggal di Yerussalem. Menurut beliau, hingga saat ini terdapat 76% rakyat yang memiliki kondisi ekonomi di bawah garis kemiskinan.

Selain seminar dari para tokoh, panel diskusi yang merumuskan saran-saran, baik bagi pemerintah maupun bagi Persatuan Pelajar Indonesia di kawasan Timur tengah dan Afrika menjadi salah satu bagian dari rangkaian kegiatan Simposium kawasan Timur tengah dan Afrika tahun 2019. Panel diskusi yang diikuti oleh para delegasi persatuan pelajar maupun mahasiswa Indonesia Yordania ini pada akhirnya melahirkan berbagai saran, baik bagi pemerintah Indonesia maupun Persatuan Pelajar Indonesia kawasan Timur tengah maupun dunia.

Diantara saran yang disepakati bersama dalam diskusi ini adalah; Mendorong pemerintah untuk bersuara lantang dalam upaya perpanjangan mandat UNRWA, yang memperjuangkan hak-hak pengungsi Palestina, yang mandatnya akan berakhir akhir tahun ini, mendorong pemerintah untuk meningkatkan program beasiswa bagi pelajar-pelajar Palestina, mendorong pemerintah agar membuat regulasi agar mengontrol pertumbuhan NGO dan memberikan bantuan yang diperlukan pada NGO yang sudah terpercaya, serta menjadikan isu Palestina menjadi isu dan perhatian utama bagi segenap Persatuan Pelajar Indonesia yang berada di wilayah Timur Tengah maupun dunia, salah satunya dengan menghidupkan badan-badan sosial setiap persatuan pelajar untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan pada rakyat maupun pengungsi Palestina. Di akhir acara, para delegasi ikut turut menyalurkan bantuan pada beberapa pengungsian yang ada di Yordania.

 ----

Rep: Muhammad Raihan (Delegasi PPMI Mesir dalam Simposium Timtengka 2019 di Amman, Yordania)

Post a Comment

0 Comments